Bandung, 16 Mei 2012
Hari ini adalah hari “macet” bagi saya karena sejak pagi hari sekitar pukul 06:30 saya
berangkat untuk memulai aktifitas disekolah menjadi sedikit terhambat karena
efek dari kemacetan ini.
Saya bertanya-tanya apa
yang menyebabkan kemacetan ini ? sekitar 15 menit saya terkurung di jl.katamso
akhirnya saya sampai di pertigaan jalan tersebut. Ternyata ada rombongan bus
pariwisata dari “TK Merpati pos”
yang letaknya tidak jauh dari pertigaan tersebut. Pada saat itu saya
menyimpulkan bahwa kemacetan ini terjadi karena BUS PARIWISATA tersebut.
Waktu menunjukkan pukul
17:00 . Saya bergegas untuk pulang
kerumah. Saat itu hujan mulai turun lagi setelah sebelumnya hujan yang disertai
angin. Saya pulang menggunakan kendaraan
umum dari arah istiqomah menuju sadang serang. Kira-kira baru 200 meter saya
berjumpa lagi dengan si “macet”
. sepertinya sudah tidak aneh jika jam 17:00 itu didaerah katamso memang sudah
menjadi langganan macet.
Hujan semakin deras dan
kendaraan pun semakin menumpuk karena kendaraan yang didepan tak kunjunng
jalan. Sudah sekitar setengah jam kendaraan yang saya tumpangi hanya “mengkutu” ditempat tersebut karena
tidak dapat bergerak kemanapun. Hujan semakin deras, waktu pun semakin sore dan
kendaraan pun semakin banyak.
Awalnya saya penasaran
dan hendak turun dari kendaraan tetapi karena kondisi yang tidak memungkinkan,
saya memilih untuk tetap berada didalam kendaraan. Setelah saya telusuri apa
yang telah menyebabkan kemacetan tersebut, ternyata sepanjang jalan katamso
tergenang air sekitar 30 cm. Banjir itu terjadi akrena selokan yang ada di
pinggiran jalan tidak dapat menampung volume air yang ada sehingga air yang ada
padaa selokan tersebut meluap dan membuat jalanan tersebut banjir. Selain itu,
hujan ini juga menimbulkan sungai yang berada di dekat pom bensin katamso
seperti lautan yang sedang diterjang badai. Airnya yang keruh dan arusnya yang
sangat deras tidak membuat sungai tersebut meluap.
Selain banjir, hal lain yang
menyebabkan kemacetan tersebut adalah orang-orang yang memarkirkan kendaraannya
di pinggir jalan sehingga arus kendaraan menjadi terhambat.
Selanjutnya kini dikawasn
Griya Pahlawan. Kemacetan juga terjadi di kawasan ini, namun kali ini lebih
renggang ‘sedikit’ namun
akhirnya menjadi lebih parah lagi. Mulai dari SMK ICB kendaraan mulai memadat
dan kembali tidak dapat melakukan pergerakan apa-apa. Ada hal lucu dalam
kemacetan kali ini dan kalimat itu dilontarkan sendiri oleh sang supir. “teeettt teeeetttt!!!!” mobil
dibelakang menyalakan klaksonnya entah apa yang ada dalam pikiran pengendara
tersebut. Sudah jelas keadaan sedang macet total masih saja menyalakan
klaksonnya. Sampai membuat orang-orang ayang berada didalamkendaraan yang saya
tumpangi ikut memanas. Sang supir berkata “apa pa?? Sudah
tau jalanan sedang macet total masih saja membunyikan klakson. Kebodohan itu
jangan dipamer-pamerkan. Kalau anda membunyikan klakson dalam keadaan seperti
ini berarti anda memamerkan kebodohan anda. Jika anda tidak bisa bersabar,
silahkan maju saja bagaimanapun caranya. ‘bade hiber ge
mangga’ kalau tidak, silahkan turun dari kendaraan anda
dan berjalan ke tempat tujuan anda, tinggalkan kendaraan anda dan bilang saka
kalau mobil anda mogok atau kehabisan bahan bakar.” Apa
yang dikatakan supir itu ada benarnya juga. dalam masalah kemacetan yang paling enak adalah
orang yang menggunakan kendaraan roda dua karena mereka menggunakan trotoar
sebagai alternatif untuk mengatasi kemacetan.
Setelah satu jam setengah
saya berada di kendaraan tesebut, saya serasa ayam oven yang hampir matang. Kondisi
sudah mulai tidak mengenakan setelah seorang pria dan sang supir merokok
didalam kendaraan.
Otak saya kembali
bertanya-tanya apa lagi yang menyebabkan kemacetan ini?? Apa mungkin ada Super
Junior yang mengadakan konsernya diperempatan pahlawan ini ? ini kan jalur
kiri, kenapa masih macet juga? Bukannya jalur kiri itu digunakan untuk
kendaraan yang akan berbelok ke kiri yaah?? sempat
saya berfikir seperti itu. Lampu lalu lintas sudah hijau tapi mengapa kendaraan
yang ada didepan tak kunjung maju? Ehhh ternyata semua kendaraan tidak dapat
bergerak dan bisa dibilang ‘pabeulit’ lampu
lalu lintas bagaikan hanya sebuah pajangan saja karena orang-orang tidak
memperhatikan lampu merah dan padahal disitu ada petugas kepolisian tetapi
polosi tidah bertindak apa-apa, mungkin sangkin banyaknya kendaraan jadi
bingung untuk mengaturnya . Disitu hujan mulai sedikit mereda. Tak terlintas
dipikiran saya, ternyata ada juga orang yang berpikiran mengambil jalur
disebelah kiri dengan arah yang berlawanan. Entah otak mereka disimpan dimana,
bisa melakukan hal seperti itu.
Setelah lama menunggu
namun kendaraan tak maju-maju, saya memutuskan untuk berjalan kaki dari
perempatan pahlawan menuju Taman Makam Pahlawan. Saat pertama melangkahkan
kaki, yang saya dapat adalah sepatu yang basah dan terisi air seperti aquarium.
Entah mengapa, melihat suasana yang macet ini saya merasa senang . mungkin
karena ini malam hari dan banyak lampu yang menyala membuat saya ‘asa di ulang taun keun’ , disitu
saya merasa sangat senang. Bagaikan berada di pasar minggu yang sangat ramai.
Saya pun menikmati
suasana ini. Baru kali ini saya melihat jalan Pahlawan hanya digunakan untuk 1
jalur kendaraan saja. Namun setelah 10 meter dari situ saya mendapatijalan
tersebut menjadi kosong dan tidak ada kendaraan yang melewati jalan itu. “serasa berada di CAR FREE DAY”
perasaan senang kembali muncul entah
dari mana datangnya. Disitu rasanya saya ingin menari-nari ditengah jalanan
yang kosong tanpa ada satupun kendaraan yang melintas. Namun saya berpikir apa
yang akan orang katakanmungkin saya dibilang otaknya kurang sehat.
Apa yang saya temui
selanjutnya ?
Saya menemukan KEMACETAN ‘lagi’ didepan taman makam pahlawan. Tak
jauh berbeda dengan kemacetan yang terjadi diperempatan pahlawan tadi. Disini juga
kendaraan tidah dapat bergerak sampa-sampai saya melihat ada seorang pengendara
sepeda motor yang turun dari kendaraannya hanya untuk mengatur arus jalannya
kendaraan (salut saya sama si bapa ini). Namun disisi lain saya melihat ada
seorang ibu-ibu yang menggunakan kendaraan beroda empat mengomel-ngomel didalam
mobilnya sambil membuka kaca mobilnya dan menongolkan sedikit kepalanya. Entah laah
ibu itu mengomel pada siapa yang jelas akhirnya saya sampai di Taman Makam
Pahlawan.
Perjalanan yang biasanya ditempuh
dalawan waktu sekitar 15 menit atau 20 menit , namun Special untuk Hari Ini . Jalur “Katamso – Pahlawan” di tempuh dalam waktu 2 jam. And it’s
make me so tired...
ini adalah kisah nyata tanpa bumbu rekayasa.
terima kasih ... :)